Beli Warung di Tanah Pemkot, Pedagang Ngamuk Warungnya Dibongkar Satpol PP

 Nurhayani dan Hasan saat menceritakan kronologis pembelian warung kopi miliknya kepada petugas Satpol PP Kota Tangerang, Selasa (5/9/2017)

Nurhayani dan Hasan saat menceritakan kronologis pembelian warung kopi miliknya kepada petugas Satpol PP Kota Tangerang, saat penertiban Bangli, Selasa (5/9/2017) foto: angga

FORWAT, Kota Tangerang –┬áSatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang membongkar puluhan bangunan liar (Bangli) di Jalan Lingkar Sudirman – Thamrin, Kampung Pulo, Kelurahan Cikokol, Kecamatan Tangerang, Selasa (5/9/2017).

Saat pembongkaran, salah seorang pedagang, Nurhayani naik pitam ketika warung kopi miliknya ditertibkan petugas Satpol PP.

Nurhayani saat ditemui di lokasi pembongkaran mengatakan, jika dirinya baru saja membeli warung tersebut kepada pemilik sebelumnya. Kata dia, warung tersebut dibelinya seharga Rp10 juta.

“Saya baru Seminggu beli warung ini dari Hasan dengan harga Rp10 Juta.Tapi, waktu saya pertama buka sudah ada petugas Satpol PP yang mendatangi saya, dan akhirnya sekarang warung saya di bongkar,” ujarnya geram.

Nurhayani meminta kepada Hasan untuk segera bertanggung jawab dan jika tidak ada itikad baik, maka dirinya akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.

“Saya mau Hasan mengembalikan uang saya. Uang Rp10 juta itu saya boleh pinjam ke saudara saya,” imbuh Nurhayani.

Di tempat yang sama, Hasan saat dikonfirmasi mengakui, jika benar dirinya telah menjual warung yang berada di atas lahan milik Pemkot kepada Nurhayani. Namun, dirinya merasa keberatan jika harus mengembalikan uang milik Nurhayani yang telah diberikan kepadanya.

“Iya saya terima uang dari bu Haryani sejumlah Rp10 Juta. Tapi kalau untuk mengembalikan saya pikir-pikir dulu, soalnya kan udah dibayarin sama dia. Saya juga tahu kalau tanah ini milik pemerintah, tapi saya dulu juga beli sama orang,” tuturnya.

Karena keduanya (Nurhayani dan Hasan) saling adu argumen anggota kepolisian dari Polisi Sektor (Polsek) Benteng membawa keduanya ke Markas Komando (Mako) untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Kepala Satpol PP Kota Tangerang H. Mumung Nurwana mengatakan bahwa tanah Kampung Pulo ini sebagian adalah milik Pemkot Tangerang. Namun, kini diatas tanah tersebut telah berdiri puluhan Bangli yang dijadikan warga untuk tempat usaha, seperti warung klontong dan tempat jual beli barang bekas.

“Luas tanah disini sekitar 1,2 hektar. Kalau tanah milik warga seluas 7000 meter persegi. Jadi tanah yang akan ditertibkan seluas 3200 meter persegi,” ujar Mumung.

Selanjutnya kata Mumung, pihaknya akan membongkar Bangli di lokasi itu. Namun untuk bangunan semi permanen, pihaknya terlebih dahulu akan melakukan pemanggilan kepada pemilik.

“Untuk bangunan yang besar dan berdinding tebal kita akan panggil dulu pemiliknya dan kita peringatkan untuk membongkar sendiri. Apabila peringatan itu tidak diindahkan maka kami akan mengirim alat berat untuk membongkar bangunan tersebut,” imbuhnya.

Kasatpol PP Kota Tangerang H. Mumung Nurwana saat berdialog dengan warga Kampung Pulo sebelum dilakukan pembongkaran, Selasa (5/9/2017).

Kasatpol PP Kota Tangerang H. Mumung Nurwana saat berdialog dengan warga Kampung Pulo sebelum dilakukan pembongkaran, Selasa (5/9/2017).

Dijelaskan Mumung, setelah dilakukan pembongkaran lahan milik Pemkot tersebut akan digunakan untuk ruang terbuka hijau (RTH) ” Rencana lahan ini akan digunakan untuk taman,” jelasnya.

Kabid Penegakan Hukum dan Peraturan Daerah (Gakumda) Satpol PP Kota Tangerang, Kaonang menjelaskan bahwa memperjual belikan tanah milik Negara merupakan suatu perbuatan melanggar hukum. Jadi, kata Kaonang sebaiknya uang milik Nurhayani dikembalikan.

“Yang namanya oknum pasti akan selalu ada. Maka saya sarankan Babinkamtibnas Polsek Benteng segera membawa yang bersangkutan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” pungkasnya.(angga)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.