Kecam AETRA, Aktivis Minta BBWS Cilicis Kaji Izin SIPA dan Usut Dugaan Gratifikasi Intake

img-20161101-wa0004

img-20161101-wa0003

FORWAT, Kota Tangerang – Perusahaan air minum PT. Aetra Tangerang disoal aktivis lingkungan yang mengatasnamakan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH), Senin (31/10/2016).

Pasalnya YAPELH menilai PT. Aetra Tangerang belum pernah memberikan kontribusi baik moril maupun materil dalam perbaikan kualitas air Sungai Cisadane yang merupakan air baku utama. Bahkan YAPELH menduga adanya Gratifikasi dalam proses Izin Pendirian Bangunan Intake PT. Aetra Tangerang.

Dalam aksinya, para aktivis YAPELH menyusuri Sungai Cisadane dengan mengunakan dua speed boat menuju Intake PT. Aetra Tangerang yang berada tak jauh dari Pintu Air Sepuluh Kota Tangerang. Sesampainya di lokasi, para aktivis lingkungan itupun langsung membentangkan spanduk di atas pipa Intake PT. Aetra Tangerang yang melintang di atas Sungai Cisadane. Diatas spanduk berukuran 3×2 meter itu para aktivis menulis “PT. AETRA TANGERANG, diresmikan tanggal 11 Juli 2012 oleh Wapres Budiono untuk MDGS 2015. Faktanya, 1. Jual air bersih mahal. 2. Sungai Cisadane sebagai air baku tidak dirawat, 3. Kontribusi untuk Kota Tangerang tidak jelas dan tutup saja intake lalu usut tuntas dugaan grativifikasi intake PT Aetra Tangerang.”

Koordinator Aksi, Ade Priyanto menjelaskan bahwa Sungai Cisadane merupakan sumber kehidupan bagi setiap mahluk hidup yang dilintasinya. Sungai yang mengalir dari Bogor – Jawa Barat, melintasi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan bermuara di Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Sungai terbesar di Provinsi Banten ini, memiliki panjang 152 km, dengan lebar rata-rata 50 m – 70 m, menjadi sumber air baku utama untuk memenuhi berbagai kebutuhan air minum.

Kata Ade, PT. Aetra Tangerang sebagai salah satu perusahan air minum yang menggunakan air Sungai Cisadane sebagai air baku untuk diolah dan dijual (komersil) kepada masyarakat, baik kalangan industri, perkantoran,pergudangan maupun perumahan.

“Sejak berdiri hingga saat ini sudah lebih dari 360.000 konsumen yang dilayani, tidak kurang dari 900 liter air/detik, air yang di ambil, diolah dan di jual oleh PT. AETRA kepada masyarakat,” jelasnya.

Masih kata Ade, bahwa air Sungai Cisadane yang saat ini dalam keadaan tercemar berat, dipenuhi sampah dan cenderung mengalami kerusakan, pendangkalan, dan penurunan kualitas. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian yang serius dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, industri, terlebih lagi industri pengolah air minum seperti PT. Aetra Tangerang. Selain itu Ade meminta kepada Pemerintah Kota Tangerang dan DPRD Kota Tangerang untuk segera membuat rekomendasi kepada BBWS Cilicis, untuk segera memindahkan Intake milik PT. Aetra Tangerang karena tidak memberikan kontribusi apapun dalam pemulihan Sungai Cisadane pada umumnya dan khususnya bagi Kota Tangerang. Sementara terkait dugaan adanya Gratifikasi Izin Pendirian Bangunan Intake PT Aetra Tangerang kata Ade, pihaknya juga meminta aparat penegak hukum agar dapat mengusut tuntas dugaan gratifikasi tersebut.

“Selama berdiri hingga saat ini, berdasarkan pengaduan dari masyarakat, hasil riset dan telaah yang kami lakukan, PT. Aetra Tangerang belum pernah memberikan kontribusi baik moril maupun materil dalam perbaikan kualitas air sungai Cisadane yang merupakan air baku utama,” paparnya.

Tak hanya itu, YAPELH juga menuding PT. Aetra Tangerang telah lalai memperlakukan air baku bahkan tidak peduli dengan keberadaan air baku, padahal itu merupakan sumber utama dari bisnis yang PT. Aetra Tangerang jalankan.

Menurut Ade, pihak perusahaan tidak memiliki Sens Of Responsibility ataupun Sens Of Bellonging terhadap Sungai Cisadane dan juga dinilai hanya memikirkan keuntungan dari penjualan air bersih, tanpa memperhatikan kondisi air baku yang semakin hari semakin menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Padahal tanpa air Sungai Cisadane PT. Aetra Tangerang tidak akan pernah bisa menjalankan usaha dengan baik.

“Untuk itu YAPELH mendesak Balai Besar Wilayah Sungai Cisadane Ciliwung (BBWS Cilicis) untuk mengkaji ulang Izin Pengambilan Air Baku ( SIPA ) PT. Aetra Tangerang, karena dianggap telah mengabaikan penanggulangan dan pemulihan Kondisi eksisting Sungai Cisadane dengan tanpa adanya perhatian dan rasa tanggung jawab dalam pemeliharaan sungai Cisadane yang dijadikan Sumber baku oleh PT. Aetra,” pungkasnya usai aksi. (Lala)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.