Selamatkan Banten, Forum Semar Gelar Diskusi dengan Tokoh Banten

Para peserta diskusi 'Selamatkan Banten' yang digelar oleh Forum Semar, di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis.

Para peserta diskusi ‘Selamatkan Banten’ yang digelar oleh Forum Semar, di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis.

FORWATNEWS, Tangerang – Diskusi ‘Selamatkan Banten’ yang dipelopori oleh Forum Semangat Rakyat (Semar) di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, di Kampung Babakan, Kelurahan Bonang, Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang, Minggu (23/10), hadir kan narasumber Konsultan Komunikasi Publik AM Putut Prabantoro, Ketua KADIN Banten Mulyadi Jayabaya, dan Anggota DPD RI perwakilan Banten Ahmad Subadri.

Koordinator Forum Semar, Ananta Wahana menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar cerdas dalam menentukan pilihan, siapa yang layak menjadi gubernur Banten periode 2017-2022 mendatang.

“Kami sengaja mendatangkan narasumber yang tahu tentang persoalan-persoalan di Banten. Supaya masyarakat melihat, mana yang layak menjadi pemimpin di Banten. Karena persoalan-persoalan yang ada di Banten, tidak luput dari persoalan tentang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat,” ujar Ananta Wahana.

Ananta juga menilai, dari dua pasangan calon gubernur yang akan bertarung pada Pilgub 2017 mendatang, Rano mempunyai peluang yang cukup besar.

Konsultan Komunikasi Publik AM Putut Prabantoro, dalam diskusi ‘Selamatkan Banten’ ini mengungkapkan, bicara tentang kesejahteraan di Banten, Lebak adalah sebagai tolak ukur. Menurutnya, Banten belum sejahtera, kalau Lebak tidak sejahtera.

“Kalau Lebak tidak sejahtera, jangan harap Banten akan sejahtera. Karena, image buruk Banten sejak jaman penjajah dan munculnya buku Max Havelaar sampai saat ini masih melakat,” ungkap Putut Prabantoro.

Ia juga mengungkapkan, terkuaknya kasus korupsi yang menyeret keluarga Atut Chosiyah (yang kala itu sebagai gubernur Banten-red), dan berawal dari terungkapnya kecurangan dalam pemilihan bupati Lebak beberapa tahun lalu, merupakan pukulan berat bagi masyarakat Banten. Putut juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan buku Max Havelar, dimana melihat pemerintahan yang korup dan tidak berpihak terhadap kesejahteraan rakyat.

“Kita semua menunggu sosok pemimpin yang bisa menyelamatkan Banten dari image buruk, seperti dalam buku Max Havelar. Dulu, Belanda memilih bupati, mana yang upetinya besar. Kasus itu berulang di Lebak dan itu sebenarnya pintu utama kasus korupsi di Banten terbuka,” paparnya.

Untuk itu, kata Putut, belajar dari kasus Lebak yang menyeret pemimpin Banten kala itu, saatnya masyarakat cerdas memilih pemimpin yang lebih baik. “Kita memilihnya (pemimpin-red), karena memang kita mencintai yang kita pilih. Jangan nanti kita yang memilih, kita juga yang menurunkan. Seperti para pemimpin yang saat ini masuk penjara karena kasus korupsi. Kita malu sebagai warga Banten, karena siapa yang memilih, kita sendiri,” pungkasnya.

Anggota DPD RI Ahmad Subadri mengugkapkan, belajar dari pemimpin sebelumnya, yang tersandung kasus korupsi, dan saat ini masih menjalani proses hukum, menurut Subadri, Banten harus maju, dan lebih baik lagi.

“Masyakat harus cerdas untuk menentukan siapa yang layak menjadi gubernur Banten. Menurut saya, Rano Karno sangat layak, karena meskipun hanya beberapa tahun, sejak menjadi Plt dan dilantik menjadi gubernur, Banten mengalami banyak perubahan,” paparnya.

Senada diungkapkan oleh Mulyadi Jayabaya, alasannya kembali ke kandang banteng, dan mendukung mati-matian pasangan Rano Karno (RK)- Embay Mulya Syarief (Mulya), karena ingin melihat Banten lebih maju. (mkk)

Leave a Reply

Your email address will not be published.