Politik Banten Dalam Kacamata Budayawan

FORWAT, Banten – Perhelatan menjelang pesta politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten 2017 dinilai sepi oleh salah seorang budayawan, sekaligus sesepuh Tangerang Ki Dalang Abah Mustayah.

Sebelumnya, Abah Mustayah menuturkan, beberapa bulan menjelang pesta politik, baik pemilihan umum (pemilu), pemilihan legislatif (pileg), pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pilgub, biasanya sudah ada para calon kandidat yang merapat dan mengajaknya untuk diskusi tentang budaya. Menurut Abah Mustayah, seorang pemimpin itu tidak boleh lepas dari budaya.

“Ini sepi, belum ada yang datang. Padahal, dulu Bu Atut dua kali nyalon, dua kali ke sini. Ini, Rano Karno, baru isterinya yang ke sini, sekali. Gus Dur juga diskusi di sini tentang budaya, sebelum pilpres 2004. Dan di sini juga beliau mengurungkan niatnya maju ke pilpres,” ujar Abah Mustaya, Selasa (27/9/2016).

Abah Mustayah juga mengungkapkan, Banten memiliki sejarah serta budaya yang cukup tua dibanding dengan daerah-daerah lainnya. Beberapa sejarah, baik dari sebelum jaman penjajahan, maupun di era kemerdekaan dan reformasi, Banten memiliki sejarah serta peristiwa politik besar.

Ia mencontohkan, pada jaman penjajah Belanda, untuk membuat jalan di tanah Jawa diawali dari Banten, yaitu titik 0 Anyer hingga Panarukan (Jawa Timur). Begitu juga dengan plat nomor kendaraan, huruf awal dalam abjad yaitu A dimiliki Banten.

“Gubernur pertama perempuan itu Banten, Kapolda pertama perempuan juga Banten. Luar bisa sekali Banten bisa mengawali. Termasuk penjajah pertama mendarat itu juga ya di Banten,” ungkapnya.

Namun, karena melupakan budaya, kata Abah Mustayah, dua periode pemimpin Banten berakhir di dalam bui karena kasus korupsi. “Bapak Joko Munandar gubernur periode pertama masuk bui, periode ke dua Bu Atut juga masuk bui dengan kasus yang sama yaitu korupsi. Tahun 2017, Banten jangan sampai kalah lagi. Kalah dengan siapa, ya kalah dengan perilaku sendiri,” tandasnya.

Ia juga berharap, pemimpin Banten ke depan harus memiliki budaya dan tidak boleh melupakan sejarah, terlebih kepada tokoh-tokoh sesepuh Banten. “Sabda palon naya genggong (istilah sesepuh atau pengayom dalam bahasa Sunda, red) jangan sampai dilupakan. Budaya, itu penting. Kalau sampai lupa, pemimpin Banten 2017 nanti juga bisa habis. Rakus, itu juga tidak mencerminkan budaya yang benar,” pungkasnya. (Mrh/lala)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.