Pembebasan Lahan Kali Angke Mandek, Warga Khawatir Terendam Banjir

WhatsApp Image 2016-08-29 at 13.53.37

FORWAT, Kota Tangerang -Hujan deras yang menguyur wilayah Kota Tangerang, Senin siang menyebabkan sejumlah jalan tergenangg air. Seperti di Jalan MH Thamrin, Cikokol, KH Hasyim Ashari, Cipondoh dan beberapa ruas jalan lainnya. Bahkan hujan deras dan air kiriman dari Bogor mulai merendam rumah warga yang berada di pinggiran Kali Angke, Jalan Kemuning, RT01/05 Kelurahan Sudimara Pinang, kecamatan Pinang. Ketinggian air hingga 50 sentimeter.

Warga sekitar, Jayanih (46) menuturkan air kiriman dari Bogor mulai masuk ke rumah warga mulai Pukul 19.00 Wib, Minggu (28/82016). Perlahan air mulai meninggi hingga kedalaman 50 sentimeter. Jayanih khawatir hujan deras di siang hari ini akan menambah debit air di Kali Angke semakin tinggi dan kembali merendam rumahnya.

Dikatakan Jayanih, tiap kali musim penghujan kawasan tersebut kerap menjadi langganan banjir. Sayangnya hingga saat ini proyek normalisasi (turap.red) dikawasan itu tak kunjung dikerjakan.
“Ya kalau disini tiap musim hujan pasti banjir. Apalagi air kiriman dari bogor. Kalau turapnya bisa dibangun minimal air bisa ketahan dan gak separah ini. Sayangnya belum juga dikerjain. Proyek ini kan udah lama,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun forwatnews.com mangkraknya proyek normalisasi di kawasan tersebut karena masih terkendala soal pembebasan lahan. Padahal proyek penurapan yang dibiayai oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sudah berlangsung sejak tahun 2014 lalu. Sementara Pemkot Tangerang melalui Dinas Bina Marga dan SDA telah menyiapkan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp. 153 miliar dari APBD 2015.

Sedangkan untuk merampungkan pekerjaan turap di sepanjang Kali Angke, pada akhir tahun 2015 Dinas Bina Marga dan SDA kembali melanjutkan pembebasan lahan yang terdapat di lima kelurahan yaitu diantaranya, Kelurahan Pinang, Sudimara Pinang, Pedurenan, Petir dan Sudimara Selatan. Pembebasan lahan itu terang Kepala Dinas Bina Marga dan SDA Kota Tangerang, Nana Trisyana merupakan proyek lanjutan yang sebelumnya di kerjakan dinas Tata Kota (sekarang Dinas Bangunan.red). Sementara untuk membebaskan lahan tersebut Pemkot telah melibatkan tim appraisal dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setelah dilakukan pendataan oleh BPN, kemudian tim appraisal melakukan penilaian untuk menentukan harga lahan warga yang berada di lima kelurahan tersebut. Sementara dalam menentukan harga lahan itu tim appraisal mengacu pada tujuh belas Variabel. Namun Nana tidak menyebutkan secara rinci Variabel tersebut.
“Ada 288 bidang di lima kelurahan, untuk pembebasan lahan kita serahkan ke tim appraisal. Kita mulai lanjutkan pembebasan lahan akhir 2015,” katanya. Namun hingga saat ini progres lanjutan pembebasan lahan proyek pengendalian banjir itu tak menunjukan hasil yang signifikan. Bahkan anggaran pembebasan lahan yang tidak terserap itu menjadi penyumbang Silpa (sisa lebih perhitungan anggaran) terbesar. (Lala)

Leave a Reply

Your email address will not be published.