Bikin Geger, Satu tahun Dikubur, Waluyo Pulang

Waluyo

FORWATNEWS, JOGJA – Waluyo, warga Kampung Suryoputran PB 3/43, Panembahan, Kraton, Jogja, kembali ke rumahnya setelah setahun dikubur. Kedatangan Waluyo membuat keluarga dan tetangga gempar.

Menurut anak pertama Waluyo, Ani Ristanti, kemunculan Waluyo (62) membuat geger keluarga dan warga di kampung halamannya, Kampung Suryoputran PB 3/43 Panembahan, Kraton, Yogyakarta. Pasalnya, Waluyo dinyatakan meninggal dan sudah dimakamkan pada Mei 2015.

Ani menceritakan, bahwa ayahnya Waluyo berangkat kerja pada Januari 2015. Ayahnya memang kerap tidak pulang ke rumah. Bahkan, Waluyo pernah sembilan bulan tidak pulang tanpa kabar.

“Pernah pergi sembilan bulan, nggak ada kabar. Saat saya mau nikah cari di pangkalan becak, enggak ada,” tambah Ani.

Ani lantas menceritakan kronologi meninggalnya pria mirip Waluyo pada tahun Mei 2015. Saat itu, lanjut Ani, ada kecelakaan tabrak lari di Wonsoari, Gunungkidul, Yogyakarta. Ani dan keluarga mendapatkan kabar tersebut dari Facebook. Setelah mendatangi rumah sakit, korban memang sangat mirip dengan Waluyo.

“Wajahnya persis sama, tinggi badan dan bajunya juga mirip. Tapi mungkin yang dulu itu gelandangan,” papar Ani.

Setelah didatangi, korban sangat mirip dengan Waluyo, pria yang selama ini bekerja sebagai tukang becak tersebut. keluarga mengetahui kecelakaan lalulintas yang dialami Waluyo dari media sosial Facebook. Waluyo lantas dimakamkan di tempat kelahirannya, Suren Kulon, Canden, Jetis, Bantul.

Setahun berlalu, lanjut Ani, Waluyo tiba-tiba muncul di rumahnya. Keluarga Waluyo pun kaget bercampur senang. Begitu pula dengan para tetangganya.

“Tiba-tiba ada yang ketuk pintu rumah. Pas buka pintu, kaget. Ibu bilang, ini siapa? Saya cuma melongo, saya lihat kakinya (nyentuh tanah) baru yakin, saya langsung sungkem,” papar Ani saat ditemui wartawan, Selasa (2/8/2016).

Kini, Waluyo ingin hidup tanpa beban masa lalu. Waluyo pun berencana menggugat istri dan anaknya dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Yogyakarta yang telah menerbitkan surat keterangan kematiannya.

Menurut Ani, ayahnya sudah berkonsultasi dengan Pengadilan Negeri (PN) Kota Yogyakarta. Waluyo, kata Ani, menggugat dirinya dan ibunya ke pengadilan untuk membatalkan surat keterangan kematian.

“Beberapa berkas sedang dilengkapi untuk didaftarkan ke pengadilan,” tutur Ani.

Menanggapi hal itu, Humas PN Kota Yogyakarta, Sumedi mengatakan, gugatan itu diperlukan agar Waluyo dapat memperoleh hak-haknya sebagai warga negara yang hilang karena dinyatakan meninggal dunia.

“Karena (dicatat) sudah mati. Tidak bisa dilayani, karena sudah mati. Misalnya bantuan pemerintah, berobat, BPJS, layanan publik jadi terhambat,” kata Sumedi kepada wartawan.

Menurut Sumedi, Surat Keterangan Kematian tidak bisa dibatalkan sepihak. Karena itu, Waluyo harus diperiksa dan dibuktikan di pengadilan. Nanti hakim yang akan menyimpulkan dan memngambil keputusan.(psc/raf)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.