Dewan Bongkar Portal Mutiara Karawaci

SIDAK

KELAPA DUA – Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama aparatur pemerintah setempat Lurah Bencongan Sukri, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Bidang Kesejahteraan Sosial Kecamatan Kelapa Dua, dan Satpol PP Kecamatan Kelapa Dua, menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Modern Karawaci Kecamatan Kelapa Dua, Rabu (27/7).

Sidak itu berdasarkan aduan warga yang keberatan dengan ditutupnya jalan desa oleh pengembang Mutiara Karawaci (Muci) untuk dijadikan parkir berbayar.

“Kita sudah cek ke lokasi dan juga berkoordinasi dengan SKPD terkait. Kita putuskan agar palang portal itu dibongkar,” kata Ketua Komisi III Adi Tiya Wijaya.

Menurut Adi , selama ini warga merasa dirugikan karena harus membayar jika melewati jalan itu. selain itu, dibuatnya portal parkir oleh pihak pengembang malah menjadi penyebab kemacetan,” ungkapnya.

Selain Adi, anggota Komisi III DPRD Rispanel Arya menuturkan, seharusnya pihak pengembang membangun komunikasi terlebih dahulu dengan warga. Menurutnya, tidak etis bila warga yang melewati jalan tersebut harus dibebani biaya. Rispanel menduga pengembang telah menyalahi aturan dan prosedur, pengembang Mutiara Karawaci  telah melakukan pelanggaran hukum. Ia menegaskan Pemkab harus mengambil tindakan.

“Pengembang sudah sewenang-wenang dan menyalahi aturan, maka sudah sepatutnya dilakukan pembongkaran,” ujar Rispanel.

Rispanel menambahkan, seharusnya plang portal itu tidak boleh dipasang karena itu adalah jalan desa. Walaupun jalan itu dibangun oleh pengembang, menurutnya tidak berarti jalan menjadi milik pengembang. Jalan itu sebagai pengganti jalan desa yang ditutup dan dijadikan ruko oleh Mutiara Karawaci. Jalan itu menghubungkan Kampung Dadap dengan Bencongan.

“Jalan harus tetap menjadi hak milik publik, bayangkan kalau warga harus bayar, sudah menyalahi aturan dapat untung pula itu pengembang”tegasnya.

Dilain pihak, perwakilan dari pengembang yang enggan menyebutkan namanya itu mengatakan saat ini dirinya masih terus berkoordinasi dengan atasannnya dan tidak dapat memberikan keterangan. Menurutnya, ia hanya staf dan tidak bisa berbuat banyak. “Nanti saja sama atasan saya. Kalau saya cuma staf,”katanya.

Romli perwakilan warga yang mengadukan persoalan ini berterimakasih kepada anggota dewan yang telah membebaskan warga yang melintas di jalan tersebut untuk tidak dipungut biaya lagi dan dikembalikan sesuai dengan fungsi awalnya sebagai jalan Bencongan. “Masa kita lewat disuruh bayar. Terus misalnya kita balik lagi, bayar lagi. Ini yang membuat kami tidak terima,” cetusnya. (zhi)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.