Untuk Apa LKS Dipertahankan?

BUKU LKS3333

FORWATNEWS, BOGOR – Pendidik dan tenaga kependidikan baik perorangan maupun kolektif dilarang menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar, dan pakaian seragam di tingkat satuan pendidikan. Demikian bunyi pasal Peraturan Pemerintah (PP) No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 181 untuk menghindarkan pihak sekolah dari berdagang.

Namun demikian, selalu saja ada celah yang dapat diciptakan untuk memperoleh keuntungan. Tak heran, Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dianggap sebagai salah satu perlengkapan bahan ajar, dan sedianya diharapkan dibuat sendiri oleh guru bidang studi yang bersangkutan atau lewat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), ternyata akhirnya berbeda.

Gayung pun bersambut. Penerbit yang tidak jelas alamatnya, mengajak kerjasama dengan pihak sekolah untuk proses pembelajaran dengan menerbitkan materi yang dianggap memenuhi kebutuhan siswa. Dengan nama yang digunakan, Lembar Kerja Siswa, lantas siapa yang mengawasi pembuatan LKS dan mengontrol isinya?

Itje Chodidjah, seorang aktivis di Ikatan Guru Indonesia mengatakan LKS yang selayaknya dibuat sendiri oleh guru yang mengajar di sekolahnya malah penerbit yang tidak jelas alamatnya memperdagangkan secara luas. Seharusnya, kalau seorang guru mengajar bidang studi IPA, dia boleh membuat LKS IPA untuk pengayaan materi di kelas, LKS ini harus sesuai dengan kebutuhan siswa dan bersifat edukatif.

Menurut Itje, wujud LKS adalah serangkaian soal-soal. Rata-rata tebalnya sekitar 50 sampai 60 halaman, yang dicetak seadanya. Dari tampilannya saja terlihat, bahwa LKS adalah produk buku murah, walaupun harganya tidak murah. Isinya, adalah asal buat. Alhasil produk LKS adalah lebih pada urusan dagang, bukan pengayaan materi ajar.

“Menurut saya, LKS tak lebih dari kumpulan soal yang digunakan sebagai alat untuk mencari keuntungan finansial semata”katanya.

Itje menuturkan, secara kasat mata terlihat, jenis bahan dalam LKS berisi sederetan soal yang hanya meminta siswa untuk tahu sesuatu. Informasi-informasi yang harus diketahui siswa pun dilakukan secara pasif, hanya dengan membaca materi di dalamnya tanpa perlu dikritisi.

“Nah, apakah guru pernah meneliti dampak penggunaan LKS terhadap kemampuan berfikir siswa?” ungkapnya.

Selain itu, Itje menjelaskan isi LKS yang dipakai para siswa di sekolah saat ini tidak bisa meningkatkan kemampuan berpikir siswa, harus diperlukan kajian ulang menyeluruh mengenai beberapa aspek menyangkut penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Unsur penting dalam penyelenggaraan proses pembelajaran di kelas menyangkut kurikulum atau silabus yang diterjemahkan menjadi RPP, bahan ajar, metode mengajar dan asesmen.

“Sudahkah keempat unsur ini saling terkait?”, tuturnya.

 Menurut Itje, guru hanya mengandalkan membawa materi ke kelas dan menyebutnya itu mengajar.

“Jika LKS ditulis sebagai pengayaan materi, apakah memang ada tujuan pembelajaran yang akan dicapai?, Siswa sekedar diajak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan meningkatkan kemampuan pikirnya? Lalu, untuk apa penggunaan LKS seperti ini dipertahankan? cetusnya. (kc/raf)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.