Razia Anjal dan Pengemis, Petugas Kejar-Kejaran di Jalan

Petugas mengamankan anjal dan pengemis yang biasa mangkal di perempatan Kota Tangerang, jumat (17/6/2016)

Petugas mengamankan anjal dan pengemis yang biasa mangkal di perempatan lampu merah Kota Tangerang, jumat (17/6/2016)

FORWAT, Kota Tangerang – Di bulan ramadhan, keberadaan anak jalanan (Anjal), pengemis dan pengamen kian marak di sejumlah perempatan lampu merah di Kota Tangerang. Seperti yang terlihat di Lampu Merah Tugu Adipura, Jalan Veteran, Lampu Merah PLN, Jalan Sudirman dan Jalan Daan Mogot.

Keberadaan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) itu dikeluhkan para penguna jalan. Pasalnya para PMKS itu dianggap telah menggangu ketertiban umum.

Penguna Jalan, Herman (24) mengaku merasa terusik dengan ulah Anjal dan pengemis yang berada di perempatan lampu merah PLN, Jalan Sudirman, Kecamatan Tangerang.

Menurut Herman seharusnya pemerintah mampu meminimalisir jumlah Anjal, pengemis dan pengamen di Kota Tangerang. Karena jika dibiarkan terang Herman, akan terjadi eksodus dikemudian hari. Terlebih memasuki Hari Raya Idul Fitri. “Ya tiap lewat situ selalu ada yang minta duit. Ya ngamen juga sedikit memaksa kan jadi menggangu penguna jalan,” katanya.

Jumat (17/6/2016) petugas Satpol PP Kota Tangerang menjaring 12 orang anjal dan pengemis yang berada di kawasan tersebut. Razia yang digelar di siang hari itu sempat diwarnai aksi kejar kejaran petugas dengan anjal. Bahkan, untuk mengelabui petugas salah seorang anjal yang biasa mangkal di sekitar Lampu Merah Sudirman sempat bersembunyi disalah satu rumah makan.

Kepala Satpol PP Kota Tangerang H. Mumung Murwana, menjelaskan razia anjal dan pengemis itu dilakukan di beberapa lokasi yang kerap dijadikan tempat mangkal yaitu diantaranya, di Terminal Cimone, Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan Daan Mogot, Tugu Adipura dan di Jalan M. Yamin.

Dikatakan Mumung, disamping untuk penegakan Peraturan Perda tentang ketertiban, Keindahan dan Ketentraman, operasi tersebut juga bertujuan untuk menekan angka PMKS yang diprediksi akan mengalami peningkatkan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Operasi kali ini merupakan usaha kami untuk meminimalisir kemungkinan penambahan jumlah anjal dan gepeng yang biasa meningkat saat ramadhan,” terangnya.

Usai didata, anjal dan pengemis yang terjaring itu kemudian diserahkan ke Dinas Sosial Kota Tangerang untuk selanjutnya dibina di Panti Sosial Bina Karya yang berada Bekasi.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial, Agus Sudrajat mengatakan agar tidak turun ke jalan, anjal dan pengemis yang terjaring itu nantinya akan diberikan berbagai macam pelatihan keterampilan. Meski begitu telah dilakukan pembinaan, mereka (anjal dan pengemis.red) lebih memilih mencari uang di jalan. Dengan alasan penghasilan yang didapat lebih menggiurkan. Agus mencontohkan, suatu waktu ia mendapati pengamen dan pengemis yang rela membayar sebesar Rp80 ribu untuk menitipkan anaknya saat turun ke jalan.

“Mereka kita tangkap untuk diberikan pembinaan, pada kenyataannya mereka lebih memilih turun kejalan karna lebih mudah mendapatkan uang di jalan. Kalau memang mereka mengemis karna terpaksa, disana (panti) ada pelatihan gratis jadi mereka mempunyai pilihan selain mengemis,” katanya.

Untuk itu, Agus menghimbau agar. masyarakat tidak memberikan uang kepada anjal dan pengemis di jalan. Karena dengan cara itu, keberadaan anjal dan pengemis dapat berkurang dengan sendirinya. Sebaliknya jika ingin menyumbang atau bersedekah bisa disalurkan ke tempat ibadah atau lembaga resmi. (Cheng/Lala)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.