Perayaan Phe Tjoen, Jadi Potensi Wisata Yang Terabaikan

Caption: Anggota DPRD Kota Tangerang, Agus Setiawan bersama masyarakat menaiki perahu naga diatas Sungai Cisadane saat perayaan Phe Tjoen, Kamis (9/6/2016).

Anggota DPRD Kota Tangerang, Agus Setiawan bersama masyarakat menaiki perahu naga diatas Sungai Cisadane saat perayaan Phe Tjoen, Kamis (9/6/2016).

FORWAT, Kota Tangerang -Pelestarian tradisi, seni dan budaya lokal masih membutuhkan perhatian dari pemerintah. Demikan halnya
perayaan Phe Tjoen di Kota Tangerang. Acara tahunan yang di gelar masyarakat keturunan tiong hoa itu kembali dihelat di pesisir Sungai Cisadane, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Karawaci, Kamis, (9/6/2016).

Panitia Acara, Gereta (69) menuturkan perayaan Phe Tjoen sendiri diperkirakan mulai dilaksanakan sejak tahun 1910 . Selain sudah menjadi tradisi turun-temurun kegiatan itu juga sebagai salahsatu wadah pelestarian seni dan budaya lokal, yaitu diantaranya, atraksi liong, barongsai, gambang kromong, ritual memandikan perahu Phe Tjoen dan lomba ngibing.

Tradisi Phe Tjoen terang Gereta, bisa menjadi salahsatu potensi wisata di Kota Tangerang. Namun didalam pelaksanaannya sangat dibutuhkan peranserta dan dukungan Pemerintah Daerah. Untuk itu Gereta berharap, kedepan perayaan Phe Tjoen bisa lebih meriah lagi. “Ya kami setuju kalau perayaan Phe Tjoen bisa dikembangkan sebagai objek kunjungan wisata di Kota Tangerang. Untuk membuat acara ini, ya masih sangat kurang anggarannya,” ujar Gereta.

Anggota DPRD Kota Tangerang, Agus Setiawan, saat ditemui di perayaan Phe Tjoen mengatakan kalau Phe Tjoen adalah satu-satunya tradisi masyarakat Kota Tangerang yang tidak dimiliki daerah lain.
Ironinya kata Agus, tradisi turun-temurun itu tidak cukup dikenal oleh masyarakat luas, bahkan oleh masyarakat Kota Tangerang sendiri. Padahal menurut Agus, perayaan Phe Tjoen yang menyuguhkan hiburan, keragaman seni budaya dan ritual adat, sudah semestinya mendapat apresiasi dan dikenal masyarakat luas.” Phe Tjoen sudah menjadi tradisi masyarakat dan dirayakan turun-temurun. Acara ini akan selalu ada. Sayangnya kurang dikenal secara luas. Jangan kan dari luar daerah, mungkin di kecamatan lain juga tidak tahu.” Katanya.

Masih kata Agus, selain sebagai bentuk pelestarian tradisi, perayaan Phe Tjoen juga bisa menjadi daya tarik dan objek kunjungan wisata di Kota Tangerang. Namun lagi-lagi kata Agus, perlunya perhatian dan dukungan dari Pemerintah. Sehingga kedepan kata Agus, sektor pariwisata yang ada di Kota Tangerang dapat dimaksimalkan dan dipastikan orang-orang (pengunjung.red) akan tertarik untuk datang ke Kota bertajuk Akhlakul Karimah itu.

Dikatakan Agus, Sektor pariwisata bukan hanya menghasilkan pendapatan kas daerah saja, tapi juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Untuk itu Agus berharap, Pemerintah Kota Tangerang lebih peka dalam mengembangkan potensi wisata yang ada di Kota Tangrang, seperti halnya Phe Tjoen.” Ini bisa menjadi potensi wisata dan menjadi objek pariwisata di Kota Tangerang. Sayangnya kegiatan ini belum mendapat perhatian dari Pemerintah. Kalau ini di dukung dan bisa disinergikan maka saya yakin ini bisa membawa manfaat dan keuntungan bagi masyarakat Kota Tangerang,” tukas politisi PDI P ini.

Sementara kemeriahan terlihat pada perayaan Phe Tjoen yang dimulai sejak, Jumat (3/6/2016) lalu. Ratusan masyarakat dan pengunjung yang hadir tampak antusias melihat pertunjukan dan hiburan yang ditampilkan dalam tradisi tahunan tersebut. (Lala)

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.